11.11
11:11 yang tersohor itu, adalah sesuatu yang nyata. Bukan hanya sekedar penanda akan sesuatu, ia memberikan pengertian baru bagaimana menjadi sabar itu hakiki. Kehidupan yang terburu-buru hanya akan menyenangkanmu sementara. Inilah mungkin yang disebut mengekalkan pikiran, melatihnya untuk taat kepada waktu dan tidak egois. Berpapasan dengan angka kembar yang itu-itu saja bisa jadi adalah rasa kangen; tetapi tak ingin bertemu karena masing-masing telah memilih jalannya sendiri.
Kemudian 11:11 bisa jadi adalah rasa gengsi, karena pernah ada perjanjian terselubung di sana. Antara kamu, dia dan entah siapa—mengingatnya akan membawamu kepada kenangan. Tapi kenangan itu busuk, ia sengaja mempengaruhimu untuk setia pada masa lalu. Padahal bukankah hidup ini terus maju. Sesekali memang tinggal di tempat—diam. Dan tidak lama tersadar kembali untuk maju ke depan.
11:11 itu seperti hujan. Tergelincir dari langit karena hendak menyentuh tanah. Tapi tentu tidak bisa langsung, ia harus terlibat dengan banyak, ranting pohon, atap rumah, jendela, payung-payung warna, pelipis, rambut—semuanya. Jadi pilihannya, ia hanya bisa melalui alur itu dengan sabar, pelan-pelan untuk menemui yang dicinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.