chika

chika

Jumat, 24 Juni 2011

pertemuan = perpisahan (blog perempuan sore)

Mungkin seperti ini "kalau kita berjodoh, kita pasti bertemu kembali." Berjodoh dengan siapa--entah. Tapi pasti ada pertemuan.

Kehilangan akan membuatmu atau siapapun bertemu dengan orang lain. Jadi sebenarnya sepanjang hidup—sepanjang perjalanan, selama masih bernafas. Kita tidak pernah sekalipun kehilangan. Sekali lagi pernyataan ini kedengaran pongah. Bukankah kepongahan itu membuat kita berani berjuang.

Berduka sepanjang waktu bukanlah solusi ketika kehilangan. Karena sebenarnya kehilangan membawa kepada pertemuan yang lain. Jodoh yang lain. Yang mungkin selintas bertemu, tidak pernah diketahui. Inilah kejutan hidup itu sendiri, jika sudah lama tidak mengalaminya: ijinkanlah hidup mengejutkanmu.

Yang paling tidak dimengerti adalah jalan laki-laki dan jalan seorang gadis, ini menjadi misteri kehidupan. Tak ada yang bisa memecahkannya kecuali kemurahan dari hidup itu sendiri. Maka sampai di sini, penyesalan akan kehilangan itu semacam sia-sia. Karena toh tidak ada yang pernah kehilangan. Kehilangan yang satu akan membawa kepada pertemuan yang lain, begitupun selanjutnya.

Lalu berhati-hatilah dengan pertemuan yang satu akan membawa kepada kehilangan yang lain..

Selama hidup, proses yang seakan tertebak melainkan tidak ini akan tetap berjalan. Lalu berakhir ketika manusia mati—tidak pernah berakhir. Karena kematian adalah awal dari kehidupan itu sendiri. Layaknya kita eling. Sepantasnya tidak mengabaikan kemurahan hidup yang telah diberi oleh sang pencipta hidup itu sendiri.

Berjodoh mungkin urusan Tuhan. Urusan lainnya adalah melakukan pertemuan yang satu kepada pertemuan yang lain. Untuk urusan orang yang tepat itu hanya kemurahan. Jangan terlalu pongah untuk hal ini karena selalu ada ketidaksempurnaan. Lalu apa hakmu untuk menjadi penuntut orang lain harus sempurna.

Terlalu banyak tahu mengenai misteri kehidupan pun tidak seru. Sebagai makhluk yang paling kecil, hendaknya berserah kepada yang sempurna itu—yang akhirnya membawa kepada pertemuan. Tidak masalah dengan siapapun. Ketika bertemu suatu hari nanti, itu adalah hari yang dipercaya, hari yang disiapkan, hari yang tidak direncanakan menurut pikiran. Hanya terjadi begitu saja, mengalir.  

Sampai di sini, tak usahlah menebak-nebak. Biarkanlah  ia berjalan dengan semestinya. Natural. Semisterius mungkin. Dan bersiaplah untuk dikagetkan.

Hari dimana kau dipertemukan—mungkin adalah hari dimana kau lupa pernah kehilangan panjang. Dengan siapa—entah.

sahabat (perempuan sore)

Mungkin perjalanan panjang ini akan usai. Ketika memang sudah waktunya. Ketika saya, kamu dan lainnya menemukan angka kembar di jalan. Baik itu di plat mobil, jam tangan, layar hape butut, atau papan iklan besar lainnya yang biasa dilewati.

Angka kembar yang mengingatkan saya akan “hati-hati.” Akan arti berjalan beriringan. Akan arti berjalan sambil bergandengan tangan. Akan arti tidak hanya bicara tetapi melakukan. Akan arti bahwa manusia memang tidak diciptakan sendiri, Eve yang diambil dari rusuk pun bukan hanya dongeng. Kalaupun iya itu dongeng yang begitu manis, karena ketika Eve diambil.. konon Adam sedang tidur. Saya membayangkan nafas Adam yang sedang naik turun, begitu lembut.

Hari ini saya dipertemukan dengan angka kembar yang tidak sama seperti hari-hari kemarin. Saya menemukannya begitu random. Di layar netbook. Angka yang begitu familiar. Angka yang akan membuatmu suka atau tidak suka, tetapi ia hanya ingin datang menjadi teman.

Angka kembar seperti teman. Kadang menjadi sahabat, apa arti sahabat buatmu? sederhana saja—kadang mereka hanya membuat hari-harimu begitu kusam. Seperti rambut yang jarang dikeramas. Mereka mengacaukan segalanya di hari itu. Tapi lalu, kamu menjadi begitu kangen. Cemburu, kalau mereka menjadi milik orang lain. Begitulah sahabat, mereka membuatmu kusam. Tapi kamu ingin menikmati kekusaman itu.

Angka kembar yang juga sahabat tidak hanya mengingatkanku kepada pengalaman ketika bersama tetapi juga kepada kehilangan. Lihatlah, apakah angka-angka itu pernah kehilangan. Toh, besoknya mereka masih akan saling bertemu seperti hari ini. Perputaran semesta mempertemukan mereka secara acak. Tidak disengaja, sungguh.


Lalu, saya dan kamu akan saling bertemu di suatu hari nanti. Kita adalah teman yang begitu baik, atau kita memang tetap sahabat dengan kondisi yang sama sekali berbeda. Mungkin kita akan saling melihat lama, dengan pelupuk mata yang berembun.

... dan bersyukur bahwa sebagai sahabat, kita pernah saling melepaskan. Tapi lalu dipertemukan—sahabat  seperti sepatu, tidak bisa hanya dipakai sebelah saja.

Perempuan sore *11.11

11.11

11:11 yang tersohor itu, adalah sesuatu yang nyata. Bukan hanya sekedar penanda akan sesuatu, ia memberikan pengertian baru bagaimana menjadi sabar itu hakiki. Kehidupan yang terburu-buru hanya akan menyenangkanmu sementara. Inilah mungkin yang disebut mengekalkan pikiran, melatihnya untuk taat kepada waktu dan tidak egois. Berpapasan dengan angka kembar yang itu-itu saja bisa jadi adalah rasa kangen; tetapi tak ingin bertemu karena masing-masing telah memilih jalannya sendiri.

Kemudian 11:11 bisa jadi adalah rasa gengsi, karena pernah ada perjanjian terselubung di sana. Antara kamu, dia dan entah  siapa—mengingatnya akan membawamu kepada kenangan. Tapi kenangan itu busuk, ia sengaja mempengaruhimu untuk setia pada masa lalu. Padahal bukankah hidup ini terus maju. Sesekali memang tinggal di tempat—diam. Dan tidak lama tersadar kembali untuk maju ke depan.

11:11 itu seperti hujan. Tergelincir dari langit karena hendak menyentuh tanah. Tapi tentu tidak bisa langsung, ia harus terlibat dengan banyak, ranting pohon, atap rumah, jendela, payung-payung warna, pelipis, rambut—semuanya. Jadi pilihannya, ia hanya bisa melalui alur itu dengan sabar, pelan-pelan untuk menemui yang dicinta.

Kecuali itu memang adalah pilihan. Ah, membuat pilihan toh tidak selamanya salah, yang salah itu yang pasif dan tidak membuat pilihan apa-apa. Terperangkap di wilayah abu-abu. Padahal warna itu jelek, kecuali jika diberi aksen tertentu. Pagi ini di jalan ketika hendak berangkat saya menemukannya di plat mobil—11:11 yang tersohor. Entah itu mobil siapa? Bukan urusanmu. Memandangnya dari kejauhan, ia tak tampak romantis lagi seperti dulu, karena ia mengandung perpisahan. Perpisahan sekaligus pertemuan dengan batas. Kalau besok bertemu lagi dengan angka yang sama, siapa tahu kita memang berjodoh.

kutipan Aku Kangen *perempuan sore

Ya, bisa jadi aku kangen.

Kalau sudah begini, yang aku lakukan adalah menghayalkanmu. Menghayalakan setiap detail yang aku ingat tentang kamu. Lalu aku merasa kalau kangen itu seperti kumpulan cerita lalu yang dikumpulkan kembali di masa kini.

Aku sempat bertanya, kenapa kita tidak pernah kangen “masa depan.” Lalu aku berpikir bahwa kangen itu memang sengaja diciptakan, ketika kau ingin mengumpulkan kembali gambar-gambar kecil yang pernah kau alami untuk diingat.

Kangen itu hal remeh, yang akan membuatmu beryukur dalam-dalam kau memiliki seseorang. Lalu, apa hubungannya gerimis tipis pagi ini dengan rasa kangenku. Jawabannya, aku ini perempuan yang mengagumi hal sederhana dan mungkin terlalu sentimentil saja.

Mungkin hanya sekedar mengingat sepatu converse lusuh, lipatan jins yang digulung sedikit, balutan kaos keren, wangimu. Aku suka wangimu, itu yang membuat aku betah berlama-lama duduk begitu dekat denganmu. Karena wangi tubuhmu.

Aku norak. Mungkin. Tapi aku suka. Perasaan suka ini yang akhirnya membuat aku jujur kepada diri sendiri. Lalu menuliskannya di sini. Bukan hanya itu, yang bikin aku kangen adalah duduk lama-lama lalu bercerita tentang hal-hal bodoh..lalu tertawa kencang-kencang denganmu.


Ya, denganmu.

Kau dan aku, terbahak-terbahak. Itu perasaan yang paling membahagiakan. Aku adalah perempuan yang tidak akan berhenti menertawai kebodohanku sendiri. Begitulah, dan aku harap kau tidak bosan. Bercerita dan bercerita, sampai mulutku sendiri capek.

Karena entahlah, mungkin karena aku sudah mulai merasa nyaman. Kau buat aku merasa begitu. Dan aku suka sekali perasaan nyaman itu. Kau juga harus mengetahui satu hal, ketika aku menulis ini, aku sedang banyak memikirkanmu akhir-akhir ini.

Aku memikirkan, mungkin suatu saat kita bisa bersama.

Ini semua karena kangen. Lalu kini, aku menyalahkan rasa kangen ini. Karena begitu kau tidak ada, aku mampu mengingat semua detail tentangmu. Detail yang membuat senyum kecil. Entahlah senyum kecil ini sampai kapan?

Aku, kangen.


(yaa saya kangen, itu perasaan saya saat ini, entah dengan siapa, entah spti apa rasanya juga, tp yg jelas saya kangen )